My Life : Persona Finale “The Unexpected Remonstration”

Hoamm… akhirnya balik juga ke Jakarta setelah +- 11 hari pulang ke Medan. Semuanya berjalan denga lancar walaupun tadi di Bandara ada sedikit masalah. Mulai dari Sa Cap Me, sampai Imlek, nonton bareng teman SMA, ketemu muka2 lama dan sebagainya sungguh bukan lagi pegalaman yang asing tapi tetap mengasyikan mengingat saya sudah +- 5 bulan berada di perantauan dengan komunitas yang baru.

Liburan kemarin memang merupakan liburan transisi antara Semester 1 dan 2 sekaligus bisa dikatakan liburan Imlek. Nilai yang ditunggu2 pun belum keluar dan masih mengharapkan yang terbaik.

Hari ini saya memasuki pintu kamar hanya dengan menjinjing laptop dan kue dari Medan. Semua bagasi saya yang berisi baju entah masih di mana sekarang. Begini ceritanya…

Siang tadi saya berangkat dari Bandara Polonia Medan ke Jakarta dengan pesawat Air Asia(dalam hal ini saya ga segan2 lagi menyebut merek karena sudah terlanjur kecewa) B737-300 dengan nomor penerbangan QZ 7495 pukul 13.20. Seperti biasa check-in, bagasi dititiplkan, nunggu di waiting room lalu boarding dan anehnya kita menunggu di pesawat lumayan lama dan akhirnya hampir jam 2 baru take-off…

Perjalanan berjalan lancar meski ada sedikit goncangan2 kecil karena cuaca tidak terlalu baik. Sesampainya di Bandara Soekarno-Hatta, seperti biasa saya turun dari pesawat menuju tempat pengambilan bagasi. Bagasi yang ditunggu tak kunjung muncul. Hanya ada sebagian kecil yang keluar dan sangat sedikit sekali. Tiba-tiba baru dibilang kalau bagasi kita masih di Medan dan silahkan melapor eantah kemana dan disuruh isi formulir ntah apa….

Alasan yang keluar pun sangat tidak masuk akal dari High-Temperature hingga Overload. Jika Hi-Temp, mengapa penumpang masih diterbangkan sedangkan bagasi ditinggal ? Jika Overload, emang nya pesawatnya bawa apa hingga bisa Overload secara bagasi penumpang ga diangkut ke pesawat. Dan akhirnya, apadaya saya pun hanya mengikuti prosedur yang ada mengingat waktu sudah menunjuk pukul 17.00 lewat. Dan yang sangat disayangkan ada makanan yang kemungkinan bisa basi jika dibiarkan terus dan itu sangatah merugikan mengingat pihak Air Asia seperti mau mengelak dari kesalahan nya. Dan juga bagaimana jika barang2 kita hilang? Katanya mau diganti rugi per Kilo.. Apakah itu masuk akal? Emang nya pihak AirAsia mau ganti berapa untuk per kilo nya? Jika ada emas 1 kilo di dalam, apakah pihak AirAsia akan mau mengganti emas tersebut sesuai dengan nilai yang sebenarnya? Malah mereka mungkin saja mengelak dengan mengatakan bahwa kita berbohong ada emas 1 kilo di dalam. Hal ini juga berlaku untuk barang2 lainnya.

Di samping semuanya, saya yakin ada sisi baik yang dapat diambil dari kejadian ini. Dan kiranya pihak AirAsia lebih baik lagi dalam memuaskan pelanggan mengingat kejadian ini bukan untuk yang pertama kalinya dan sudah terjadi berkali2.

Dan, apakah bagasi saya yang dijanjikan akan dikirim dan sampai paling lambat besok akan BENAR2 sampai? Ataukah akan ada kekecewaan2 lain yang makin membuat reputasi AirAsia lebih hancur lagi?

Kita tunggu jawabannya besok… CAO….

“Happy Chinese New Year 2559 and Happy Valentine”

Posted in Life | Leave a comment

Inheritance : Brisingr

Ketika browsing2, ga sengaja gw nemuin berita kalau buku ketiga dari seri Inheritance yang diberi judul Brisingr sudah ditentukan tanggal rilisnya. Sungguh berita yang menyenangkan tentunya mengingat saya membaca buku keduanya entah berapa tahun yang lalu. Dan mengapa saya sebut seri dan bukan lagi trilogi? Karena banyak rahasia-rahasia dan plot yang tidak dapat diselesaikan Paolini dalam 1 buku sehingga dia harus membuat endingnya dipecah menjadi 2 buku yang menyebabkan Inheritance tidak lagi disebut Inheritance Trilogy melainkan Inheriance Cycle.

Cover buku ke-3 ini pun sudah dirilis. Cover dengan warna hitam yang mempresentasikan Naga Emas Glaedr di covernya dan dengan tulisan khas berwarna emas BRISINGR yang membuat cover buku ini begitu elegan.

“I plotted out the Inheritance series as a trilogy nine years ago, when I was fifteen. At that time, I never imagined I’d write all three books, much less that they would be published” said Paolini. “When I finally delved into Book Three, it soon became obvious that the remainder of the story was far too big to fit in one volume. Having spent so long thinking about the series as a trilogy, it was difficult for me to realize that, in order to be true to my characters and to address all of the plot points and unanswered questions Eragon and Eldest raised, I needed to split the end of the series into two books.”, kata Paolini seperti dikutip dari salah satu fans site Inheritance.

Bagi yang ga sabar lagi pengen baca buku ketiga yang pastinya seru banget, nih ada kutipan dari bukunya untuk para fans Eragon.

“Light and Shadow”
(An excerpt from Brisingr, Book 3 of the Inheritance Cycle)

Saphira kneaded the soil beneath her feet. Let us be off! Leaving their bags and supplies hanging from the branch of a juniper tree, Eragon and Roran clambered onto Saphira’s back. They wasted no time saddling her; she had worn her tack through the night. The molded leather was warm, almost hot, underneath Eragon. He clutched the neck spike in front of him—to steady himself during sudden changes in direction—while Roran hooked one thick arm around Eragon’s waist and brandished his hammer with the other.

A piece of shale cracked under Saphira’s weight as she settled into a low crouch and then, in a single giddy bound, leaped up to the rim of the gulch, where she balanced for a moment before unfolding her massive wings. The thin membranes thrummed as Saphira raised them toward the sky. Vertical, they looked like two translucent blue sails.

“Not so tight,” grunted Eragon.
“Sorry,” said Roran. He loosened his embrace.
Further speech became impossible as Saphira jumped again.

When she reached the pinnacle of her jump, she brought her wings down with a mighty whoosh, driving the three of them even higher. With each subsequent flap, they climbed closer to the flat, narrow clouds that extended east to west.

As Saphira angled toward Helgrind, Eragon glanced to his left and discovered that, because of their elevation, he could see a broad swath of Leona Lake some miles distant. A thick layer of mist, gray and ghostly in the pre-dawn glow, emanated from the water, as if witchfire burned upon the surface of the liquid. Eragon tried, but even with his hawklike vision, he could not make out the far shore, nor the southern reaches of the Spine beyond, which he regretted. He had not laid eyes upon the mountain range of his childhood since leaving Palancar Valley.

To the north stood Dras-Leona, a huge, rambling mass that appeared as a blocky silhouette against the wall of mist that edged its western flank. The one building Eragon could identify was the cathedral where the Ra’zac had attacked him; its flanged spire
loomed above the rest of the city, like a barbed spearhead. And somewhere in the landscape that rushed past below, Eragon knew, were the remnants of the campsite where the Ra’zac had mortally wounded Brom. He allowed all of his anger and grief over the events of that day—as well as Garrow’s murder and the destruction of their farm—to surge forth and give him the courage, nay, the desire, to face the Ra’zac in combat.

Eragon, said Saphira. Today we need not guard our minds and keep our thoughts secret from one another, do we?

Not unless another magician should appear.

A fan of golden light flared into existence as the top of the sun crested the horizon. In an instant, the full spectrum of colors enlivened the previously drab world: the mist glowed white, the water became a rich blue, the daubed-mud wall that encircled the center of Dras-Leona revealed its dingy yellow sides, the trees cloaked themselves in every shade of green, and the soil blushed red and orange. Helgrind, however, remained as it always was—black.

The mountain of stone rapidly grew larger as they approached. Even from the air, it was intimidating.
Diving toward the base of Helgrind, Saphira tilted so far to her left, Eragon and Roran would have fallen if they had not already strapped their legs to the saddle. Then she whipped around the apron of scree and over the altar where the priests of Helgrind observed their ceremonies. The lip of Eragon’s helm caught the wind from her passage and produced a howl that almost deafened him.
“Well?” shouted Roran. He could not see in front of them. “The slaves are gone!”
A great weight seemed to press Eragon into his seat as Saphira pulled out of her dive and spiraled up around Helgrind, searching for an entrance to the Ra’zac’s hideout.

Not even a hole big enough for a woodrat,
she declared. She slowed and hung in place before a ridge that connected the third lowest of the four peaks to the prominence above. The jagged buttress magnified the boom produced by each stroke of her wings until it was as loud as a thunderclap. Eragon’s eyes watered as the air pulsed against his skin.
A web of white veins adorned the backside of the crags and pillars, where hoarfrost had collected in the cracks that furrowed the rock. Nothing else disturbed the gloom of Helgrind’s inky, windswept ramparts. No trees grew there among the slanting stones, nor shrubs, nor grass, nor moss, nor lichen, nor did eagles dare nest upon the tower’s broken ledges. True to its name, Helgrind was a place of death, and stood cloaked in the razor-sharp, sawtoothed folds of its scarps and clefts like a bony specter risen to haunt the earth.
Casting his mind outward, Eragon confirmed the presence of one of the slaves, as well as the two people whom he had discovered imprisoned within Helgrind the previous day, but to his concern, he could not locate the Ra’zac or the Lethrblaka. If they aren’t here, then where? he wondered. Searching again, he noticed something that had eluded him before: a single flower, a gentian, blooming not fifty feet in front of them where, by all rights, there ought to be solid rock. How does it get enough light to live?
Saphira answered his question by perching on a crumbling spur several feet to the right. As she did, she lost her balance for a moment and flared her wings to steady herself. Instead of brushing against the bulk of Helgrind, the tip of her right wing dipped into the rock and then back out again.
Saphira, did you see that!

I did.

Leaning forward, Saphira pushed the tip of her snout toward the sheer rock, paused an inch or two away—as if waiting for a trap to spring—then continued her advance. Scale by scale, Saphira’s head slid into Helgrind, until all that was visible of her to Eragon was a neck, torso, and wings.
It’s an illusion! exclaimed Saphira.
With a surge of her mighty thews, she abandoned the spur and flung the rest of her body after her head. It required every bit of Eragon’s self-control not to cover his face in a desperate bid to protect himself as the crag rushed toward him.
An instant later, he found himself looking at a broad, vaulted cave suffused with the warm glow of morning. Saphira’s scales refracted the light, casting thousands of shifting blue flecks across the rock. Twisting around, Eragon saw no wall behind them, only the mouth of the cave and a sweeping view of the landscape beyond.
Eragon grimaced. It had never occurred to him that Galbatorix might have hidden the Ra’zac’s lair with magic. Idiot! I have to do better, he thought. Underestimating the king was a sure way to get them all killed.
Roran swore and said, “Warn me before you do something like that again.”
Hunching forward, Eragon unbuckled his legs from the saddle as he studied their surroundings, alert for any danger.
The opening to the cave was an irregular oval, perhaps fifty feet high and sixty feet wide. From there, the chamber expanded to twice that size before ending a good bowshot away in a pile of thick stone slabs that leaned against each other in a confusion of uncertain angles. A mat of powder-gray scratches defaced the floor, evidence of the many times the Lethrblaka had taken off, landed, and walked about thereon. Like mysterious keyholes, five low tunnels pierced the sides of the cave, as did a lancet passageway large enough to accommodate Saphira. Eragon examined the tunnels carefully, but they were pitch-black and appeared vacant, a fact he confirmed with quick thrusts of his mind. Strange, disjointed murmurs echoed from within Helgrind’s innards, suggesting unknown things scurrying about in the dark, and endlessly dripping water. Adding to the chorus of whispers was the steady rise and fall of Saphira’s breathing, which was overloud in the confines of the bare chamber.
The most distinctive feature of the cavern, however, was the mixture of odors that pervaded it. The smell of cold stone dominated, but underneath it, Eragon discerned whiffs of damp and mold and something far worse: the sickly-sweet fetor of rotting meat.
Undoing the last few straps, Eragon swung his right leg over Saphira’s spine, so he was sitting sidesaddle, and prepared to jump off her back. Roran did the same on the opposite side.
Before he released his hold, Eragon heard, amid the many rustlings that teased his ear, a score of simultaneous clicks, as if someone had struck the rock with a collection of hammers. The sound repeated itself a half-second later.
He looked in the direction of the noise, as did Saphira.
A huge, twisted shape hurtled out of the lancet passageway. Eyes black, bulging, rimless. A beak seven feet long. Batlike wings. The torso naked, hairless, rippling with muscle. Claws like iron spikes.
Saphira lurched as she tried to evade the Lethrblaka, but to no avail. The creature crashed into her right side with what felt to Eragon like the strength and fury of an avalanche.
What exactly happened next, he knew not, for the impact sent him tumbling through space without so much as a half-formed thought in his jumbled brain. His blind flight ended as abruptly as it began when something hard and flat rammed against the back of him, and he dropped to the floor, banging his head a second time.
That last collision drove the remaining air clean out of Eragon’s lungs. Stunned, he lay curled on his side, gasping and struggling to regain a semblance of control over his unresponsive limbs.
Eragon! cried Saphira.

Excerpt copyright © 2006 by Christopher Paolini. Published by Alfred A. Knopf Books for Young Readers.

Kutipan dilindungi copyright © 2006 by Christopher Paolini. Published by Alfred A. Knopf Books for Young Readers.

 

Wow, setelah membaca kutipan di atas pastinya makin ga sabar untuk segera membaca kelanjutannya. Nantikan saja buku ke-3 yang akan dirilis pada tanggal 20 September 2008 nanti. Hmm.. kapan yah masuk ke Indonesia nya?? Apalagi kalau tunggu versi terjemahannya. Sepertinya harus menunggu sampai tahun 2009 nih. Cao…

Posted in Artikel, Book | 17 Comments

Mantan Presiden Soeharto Meninggal Dunia

Minggu, 27 Januari 2008 – 13:12 wib

Sutarmi – Okezone

JAKARTA – Setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) sejak 4 Januari 2008, mantan Presiden Soeharto akhirnya tak dapat melawan sakit yang dideritanya. Penguasa Orde Baru itu pun menghembuskan nafas terakhir pada Minggu (27/1/2008) pukul 13.10 WIB.


” Pak Harto meninggal dunia pukul 13.10 WIB,” ujar Kapolsek Kebayoran Baru Dicky Sondani, di RSPP, Jakarta, Minggu (27/1/2008)


Soeharto dilarikan ke RSPP pada Jumat (4/1/2008) pukul 14.15 WIB dan mendapat perawatan di ruang president suite VVIP nomor 536 lantai V RSPP. Soeharto dirawat karena mengalami penimbunan cairan di tubuhnya yang mengakibatkan pembengkakkan dan menurunnya kadar darah merah (hemoglobin).


Keadaan Soeharto sempat membaik setelah tim dokter mengeluarkan cairan di tubuhnya. Soeharto masih dapat tersenyum dan berbicara meskipun hanya dalam kalimat-kalimat pendek. Namun kesehatannya kembali mengalami penurunan pada Senin pagi (7/1). Kondisi itu ditandai dengan menurunnya produksi urin dan penumpukan cairan di paru-paru. Selain itu penurunan kondisi kesehatan Soeharto juga ditandai dengan dijumpainya pendarahan melalui urin dan feses sehingga hemoglobin yang awalnya berhasil dinaikan menjadi turun kembali.


Penurunan kesehatan ini, disebabkan tubuh Pak Harto yang mengalami ketergantungan pada alat bantu dan obat-obatan.Tim dokter telah berupaya mengurangi keberadaan alat bantu di tubuh Pak Harto.Langkah tersebut justru membuat kondisi tubuh Pak Harto semakin menurun. Namun seminggu terakhir, kondisi Soeharto dikabarkan berangsur pulih, karena tim dokter berhasil mengendalikan infeksi di tubuh Soeharto.


Namun pada Minggu pagi ini, tim dokter menyatakan sejak pukul 01.00 WIB Soeharto mengalami sesak nafas, dan tekanan darah yang mengalami penurunan. Tim dokter juga menyatakan sistem pernafasan Soeharto diabil alih 100% oleh alat bantu pernafasan.Namun akhirnya pada pukul13.10 WIB ini Soeharto tak dapat tertolong lagi.
Soeharto tutup usia di usia ke 86 tahun. Lahir di Kemusuk Argo Mulyo 8 Juni 1921, Ia dilantik sebagai Presiden pada tanggal 27 Maret 1968 dan berkuasa hingga 32 tahun sebelum akhirnya lengser oleh gelombang demonstrasi mahasiswa pada 1998.


Soeharto menikah dengan Suhartini dan memiliki enam orang anak. Yaitu Sigit Harjojudanto, Siti Hardijanti Rukmana (Tutut), Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Hariyadi (Titik), Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek). (pie)

Turut berdukacita atas meninggalnya salah satu pahlawan negara kita. Semoga diterima di sisi Tuhan dan bagi keluarga yang ditinggalkan dapat tetap tegar.

“Dengar seluruh angkasa raya memuji pahlawan negara . . .”

Posted in Artikel | Leave a comment

My Life : Persona “The Champ”

Wooghh… Keren2, mantap2… baru ntn pertandingan Chris John vs Roinet Caballero dari Panama. Meski baru sempet nonton dari ronde 4, ga rugi deh pokoknya. Lihat adu hantam gitu, atau memang gw punya jiwa brutal dikit yah. wkwkk… And nih ada review pertandingan yang dikutip dari detikSport.com

Sabtu, 26/01/2008 23:20 WIB
Chris John Menang Lagi
Rossi Finza Noor – detikSport

Jakarta – Chris John Menang Lagi

Melalui pertarungan tujuh ronde, Chris John berhasil mempertahankan gelar juara dunia kelas bulu versi WBA. Petinju kebanggaan Indonesia itu menang TKO atas penantangnya, Roinet Caballero.

Bertarung di bawah dukungan ribuan pasang mata yang memadati arena Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (26/1/2008) malam, Chris John mendominasi pertarungan perebutan juara dunia kedelapannya semenjak dari ronde pertama.

Di ronde pembuka, baik Chris John maupun Caballero sama-sama masih berhati-hati dan lebih banyak menjajaki kekuatan lawan.

Dominasi Chris John atas lawannya itu mulai terlihat di ronde kedua. Beberapa kali Chris John mampu memojokkan petinju Panama itu ke sudut ring melalui kombinasi pukulan-pukulan pendeknya.

Memasuki ronde-ronde berikutnya, keunggulan Chris John masih belum tertahan meski Caballero beberapa kali melepaskan serangan balasan, terutama di ronde keempat.

Di ronde keenam, Caballero makin tersudut oleh berondongan pukulan-pukulan jab Chris John dan bahkan sempat terjatuh. Namun wasit tidak memberikan hitungan karena menganggap Caballero jatuh karena dorongan.

Chris John terus mengendalikan pertandingan saat memasuki ronde ketujuh. Pukulan-pukulan petinju asal Banjarnegara itu beberapa kali menghantam telak kepala lawan. Namun pukulan Chris John terasa kurang berbobot sehingga tidak mampu menjatuhkan Caballero.

Pertarungan akhirnya dimenangi Chris John setelah Caballero menyerah di akhir ronde ketujuh dari 12 ronde yang direncanakan. Petinju berusia 24 tahun itu tak melanjutkan pertandingan dan dinyatakan kalah TKO.

Dengan hasil ini, Chris John kini mencatat rekor 40 kali menang (21 KO), satu kali seri dan belum pernah kalah. Sementara Caballero mengukir catatan 22-8-1.

Khusus bagi Chris John, kemenangan ini membuatnya menorehkan sembilan kemenangan dalam pertarungan dunianya. Petinju 28 tahun ini hanya membutuhkan satu kali kemenangan dalam pertarungan dunia untuk mendapatkan gelar “Super Champ” dari WBA.

(arp/key)

Bener2 membanggakan mempunyai seorang Chris John yang dapat mengharumkan nama Indonesia di kancah tinju dunia. Selamat buat Chris and Thx buat perjuangannya. Kita tunggu aja aksi2 Chris yang selanjutnya. Cya all… cao…

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota”

Posted in Life, Sport | Leave a comment

My Life : Persona “The First”

Wahh… Setelah santai selama 2 hari and hanya melihat orang belajar karna sibuk ujian, akhirnya hari ini ujian pertama UAS dengan makul Aljabar Linear. Woghhh, ga nyangka soalnya ga susah2 banget and dapat terselesaikan dengan baik dan benar. Hohoho….

Sekarang saatnya berjuang untuk makul dengan 6 SKS di semester ini yaitu Algoritma dan Pemograman. Harus berjuang keras nih secara bahannya lebih sulit and UTP cuma dapat 88, ga cukup secure kalau menurut gw. Setelah AlgoProg ada MatDis lagi yang menunggu. Ckckck… Berat, tapi harus bisa karna MatDis gw cuma dapat 75 waktu UTP. T_T

Btw, nih ada beberapa kisi-kisi UAS untuk anak2 TI Semester 1 di BiNus (bahan dari berbagai sumber) :

Algoritma dan Pemograman

Soal pli ganda
per 15-16 fungsi 6 soal
per 17-18 struct & union (6)
per 19-20 alloc memori dinamis 3 yg dpelajarivariabel static,ekstern n alokasi
per 21-22 file 3 pelajari binus maya hal 9-selesai
per 25-26 searching 2

Essay dari function, searching dan sorting (ada 3)

Pertemuan                                            20 soal(40%)                           3 soal essay(60%)
15-16 Fungsi                                                 6                                                       ok
17-18 Struktur & union                               6
19-20 Alloc memori dinamis                      3
21-22 FILE                                                    3
23-24 Sort                                                     0                                                      ok
25-26 search                                                 2                                                      ok

**pertemuan 21-26 mhn dibaca2 coz mencurigakan(mnurut nara sumber yg identitasnya tdk ingin diketahui hehehe….)

ciri2 soal hmpr sama dgn soal UTS
Struct dan union->bit field(x),deklarasi struktur lokal(x),enumeration(x)
Alloc memory-> variabel static(ok),eksternal(ok),alokasi(ok)

** (x)—->tidak keluar
(ok)—>keluar

Matematika Diskrit

– Aljabar Boole
– Spaning tree
– Finite Automata(Graph,tabel,difinisi formal)
– Pewarnaan graph
– Gerbang(gate) termasuk karnaugh map
– Lexicograph(postfix,prefix,infiks)
– Buka buku samuel wibisono hal 113 no 3 kemungkinan soal keluar(mgkn sdkt dbedain angka2nya)
– Buku hal 130 pelajari

Pengantar Teknologi Informasi

1. SDLC(gambar, fase2)
2. Metode alternatif selain SDLC
3. ERR(flowen dan segmen supplai chain)
4. e-bussiness dan e-commerce
5. Kelebihan dan kekurangan e-payment
6. Isu isu etika IT (ada 4)
7. Ancaman2 trhadap SI (terhadap serangan sistem komputer)
8. Kekurangan dan kelebihan berbagai perolehan sistem
9. internet basic
10. pertemuan 13: siklus menyimpan data (data visualzation technique)
11. pertemuan 14: def intiligant system (alasan kenapa mengunakan inf system)
12. pertemuan 15: aplikasi inf system( expertsystem,spech understanding,natural langguage,robotics,cony vision)

NB: Bhn2 diatas didapat dari sumber yang tidak diketahui dan tidak diketahui tingkat kebenarannya. Saya tidak bertanggung jawab atas kesalahan2 yang mungkin terjadi jika mengikuti bahan2 di atas (^-^)V

“Change your thoughts and you change your world “- Norman Vincent Peale

Posted in Life | 2 Comments

A Better Life

Tanggal Ibadah : 19 Januari 2008

Pengkhotbah : Anta Kirana

Jumlah Jemaat : 344 orang

“Ku pandang wajahMu dan ku berseru. Pertolongan ku dapat dari Mu. Peganglah tanganku. Jangan lepaskan. Kaulah harapan dalam hidupku.” Sebait lagu yang memulai ibadah kita. Kak Irawan yang menjadi WL malam itu mengajak setiap kita untuk datang pada Tuhan dan menyerahkan setiap pergumulan, masalah, dan beban yang sedang kita hadapi.

Kak Anta sang GOD’s father yang kali ini datang bersama tim dari Perth, menyampaikan firman Tuhan buat setiap kita. Suasana sontak cair ketika Kak Anta menceritakan beberapa jokes. Yuk kita intip apa aja yang disampaiin Kak Anta. Yuk mareee…

Amsal 3:27-30

Hidup kita harus lebih baik tahun ini. Imani itu. Namun ingat, iman tanpa perbuatan sama dengan mati (Yak 2:14).

Gaya hidup yang harus kita punya untuk hidup yang lebih baik :

Ketika kita memberkati maka kita juga akan diberkati. Setiap kita adalah berkat buat orang lain. Seperti satu lagu anak-anak, “… and the way to be happy is to make someone happy and u’ll having litlle heaven right here (heart)”. Punyai gaya hidup memberi bukan selalu meminta.

Berpikir negatif sama orang lain gak ada gunanya. Adanya malah dosa. Kata-kata positif dimulai dari pikiran yang positif yang akan menghasilkan tindakan positif dan kemudian menjadi kebiasaan positif.Sekarang udah tahun 2008. Jangan lagi hidup di tahun 2007. Jangan hidup di masa lalu. Ini sedikit contoh bagaimana pikiran positif dapat merubah hal negatif menjadi positif. ‘Seorang nyonya datang kepada Mr Josh. Dia menceritakan niatnya untuk menceraikan suaminya. Dia gak tahan dengan perlakuan suaminya yang kerap berlaku negatif padanya. Bahkan dia berniat untuk meracuni suaminya. Namun, Mr Josh menyarankan pada sang nyonya untuk mulai berpikir positif. Kemudian sang nyonya mulai mempraktekkan saran tersebut. Mengucapkan kata-kata positif pada suaminya dan berpikir positif. Akhir cerita, sang nyonya membatalkan niat untuk menceraikan suaminya. Tidak akan pernah ada perceraian. Ketika sang nyonya mempraktekkan gaya hidup berpikir positif, suaminya pun mulai berubah. Semua hanya diawali dengan sikap yang berpikir positif.What you think is what you get..

Selalu berkata-kata positif. Hilangkan kebiasaan dikit-dikit bilang ‘gak bisa.’ Punya terminology ‘dapet apa-apa’ kalau baca alkitab. Ini juga dipraktekin langsung dengan kita saling memberikan kata positif untuk teman di sebelah kiri dan kanan kita.

In everything give thanks. Bukan hanya saat senang tapi dalam segala hal punyai sikap yang selalu mengucap syukur. Mengucap syukur senantiasa.

Kemudian malam itu, Kak Darwin (akhirnya) mengumumkan resminya hubungan Kak Darwin dan Kak Dea. Selamat ya Kak! Tetap menjadi teladan buat kami semua..

Dilanjutkan dengan penyambutan sahabat baru. Kemudian ditutup dengan doa berkat oleh Kak Anta.

SEMANGED!!!!

“I can do all things through Christ who strengthens me” – Filipi 4:13

-tR3-

Dikutip dari : god-youth.com

Posted in Ibadah | Leave a comment

My Life : Persona “The Emptiness”

Waktu bangun tadi, ga tau napa gw rasain kekosongan. Kosong banget sampai gw ga tau apa yang mau gw lakukan. Trus, gw mutusin tuk SaTe bentar. And akhirnya, gw minta buat diisi kekosongan2 tersebut and thx Jesus. Akhirnya gw mutusin buat update blog gw.

Memang sih dah lama ga nulis blog. Soalnya ga ada waktu trus sih. And kebetulan hari ni libur karna ga ada kelas so gw luangin waktu dikit buat nulis blog.

Tak terasa tgl23 ntar da mulai UAS (Ujian Akhir Semester) untuk semester 1 ini. Bisa dibilang lama sih secara temen2 gw di universitas lain ada yang sudah ujian Desember lalu dan bahkan ada yang sudah memasuki semester baru! Woghh!!..

UAS tentu saja beda ma UTS. Persentase nilai yang diambil lebih besar dan materi yang diuji  agak sulit sedikit apalagi untuk makul AlgoProg. Linked List, Sorting dan Searching hanya sebagian dari materi yang akan diuji. Ada juga MatDis dengan Teori Graph dan Finite Automata nya. Kedua makul tersebut memang yang paling sulit menurut gw di samping PTI yang mengharuskan kita mati-matian menghapal. Di samping ketiga makul itu jangan lupakan ALin, BIndo dan BIndo lho yang bila kita ga hati2 justru bisa membuat kita terpeleset. Apalagi BIng yang secara soalnya soal TOEFL smua.. T_T

But just have fun lah… Hari ni and besok mau relax dulu dari segala kesibukan duniawi. Mau mengisi kekosongan gw secara semakin gw nulis  blog ini, ga tau napa hati gw mulai kosong lagi… wkwkw… No hiu lah… Just relax n have fun..

Cia you all buat UAS ntar. Klo berjodoh kita ketemu lagi di Semester 2.

“Lebih baik sakit di telinga mendengar teguran, daripada sakit sepanjang hidup karena ketidaktaatan”

Posted in Life | Leave a comment

My Life : Persona “The New Beginning”

Hari yang luar biasa n bener2 capek bangett… Baru selesai mandi habis pulang ibadah n makan2 trus mo nya tidur, tp gw mo luangin waktu bentar sblum smuanya hilang n berlalu begitu saja.

Dimulai dari pagi2 sekali gw bangun jam 5 lewat gitu lah, trus mandi n langsung brangkat untuk sate bareng.. Trus, habis sate sarapan bentar n pembinaan ma pembina gw mpe jam 12an gt lah… And saatnya ke kampus buat kuliah sampe jam 5an gt. Mata kuliah tadi sungguh luat biasa yaitu matdis… Bener-bener peras otak tadi sampai kepanasan n keringatan.. T_T

Selesai kuliah langsung melesat ke Greenville n sampenya jam 6lewat gt. And sebenarnya tadi gw jam 15.30 da harus brangkat but berhubung ada kelas mpe jam 5 terpaksa deh gw nyusul.. Sesampainya di sana, langsung ganti baju SPK n smua temen yang lain da pada lagi gladi buat ibadah ntar.. Emang ada apa sih? Tadi ada suatu event yang luat biasa yaitu wisuda SPK angkatan-17.. hohoho…. Setelah beberapa bulan menjalani kelas SPK Pemenang, akhirnya lulus juga. And acara wisuda tadi berjalan dengan baik dan lancar…

Lulus SPK Pemenang bukanlah akhir dari segalanya. Tapi baru merupakan langkah pertama yang diinjak untuk melangkah lagi untuk sesuatu yang lebih tinggi. Masih banyak lagi proses yang harus dilewati, badai yang menerpa, cobaan yang menghalangi dan rancangan2 Tuhan yang lain buat gw.. Dan inilah awal yang baru  buat gw. Awal yang baru di mana saya ga melihat lagi ke belakang namun melihat ke depan atas rancangan yang telah disiapkan buat gw.

Awal gw ikut SPk adalah waktu kelas ke-2. So, ceritanya beberapa minggu sejak pertama kali gw menginjakkan kaki di GOD, telah dibuka kelas SPK yang baru n gw diajak seseorang yang notabene gw ga tau tuh bakalan jadi pembina gw. Minggu pertama sih masih malas n masih nolak n cari2 alasan. Trus minggu ke-2, kan ga enak nolak terus n gw ikut aja walaupun harus bangun pagi2 sekaii. T_T Trus setalah itu gw ikut terus kelas2 yang lain n semakin tahu dasar2 dari kekristenan. TRus sampai skarang dehh…

And sampai sekarang, gw ga pernah nyesal deh ikut SPK n pastinya bagi yang pengen ikut, besok tgl 6 Januari 2008 sudah dibuka kelas baru and bagi yang antusias silakan bergabung saja…. Akhir kata, gw ngantuk banget n pengen tidur doeloe.. cya guyzz…. GBU…

“Keputusanmu hari ini akan menentukan masa depanmu” – SPK Man

Posted in Life | Leave a comment