My Life : Genesis “The Relieving Night”

Malam itu memang bukan seperti malam yang biasanya. Beberapa hari menjelang pengambilan hasil UN. Cahaya tesebut masih ada dan nampak ketika saya menjalankan kegiatan saya seperti biasanya. Dan malam yang biasa itu sangat menyenangkan bagi saya. Tapi saya tak begitu yakin apakah kesenangan saya sesuatu yang semu atau benar – benar nyata. Beberapa hari ini, cahaya tersebut nampak lain dari biasanya. Lebih redup dari biasanya padahal saat itu saya tidak terlalu jauh dari cahaya tersebut.

Memang beberapa minggu terakhir ini akan menjadi minggu yang melelahkan. Beberapa minggu terakhir di Medan. Saya masih belum tahu apakah dalam beberapa minggu tersebut saya dapat meraih cahaya tersebut. Tepatnya meraih KEMBALI cahaya tersebut. Memang terdapat suatu kelegaan yang luar biasa setelah malam itu. Malam tanpa disinari bulan dan dipadati bintang.

Tapi apakah kelegaan saya hanya berupa imajinasi saya belaka ?
Apakah kelegaan saya sengaja diberikan ?
Apakah cahaya tersebut hanya memberikan sinar palsu ?
Sinar unutk membuat saya lega ?

Jujur saja saya tidak tahu. Yang saya tahu, malam itu cahaya tersebut menyinari saya dengan sinar yang penuh harapan. Dan unutk itulah saya kembali bersemangat menjalani hidup saya. Untuk itulah saya akan memanfaatkan beberapa minggu terakhir saya di sini dengan sebaik-baiknya. Saya akan terus mengawasi cahaya tersebut setiap hari. Itulah tekad saya selama beberapa minggu terakhir saya. Saya akan menggapainya jika Tuhan mengizinkan. Sekali lagi…

Itulah tekad saya !

”Mengapa berat ungkapkan cinta padahal ia ada ?

Mengapa sulit mengaku cinta padahal ia terasa ?”

TO BE CONTINUED . . .

This entry was posted in Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *